Showing posts with label Catatan Kecil. Show all posts
Showing posts with label Catatan Kecil. Show all posts

Tuesday, June 6, 2017

Hidup Bersih Adalah Cermin Kepribadian Santri

Pelestarian lingkungan dalam istilah arab biasa disebut dengan ri’ayah al bi’ah (رعاية البيئة). Bagaimana konsep pelestarian lingkungan tidak pernah kita temukan secara khusus dibahas dalam kitab-kitab salaf atau klasik, namun jika  berusaha mencari tahu akan kita temukan cukup banyak dalam beberapa kitab kontemporer.

Kata al-bi’ah dalam bahasa indonesia diartikan dengan lingkungan yakni segala sesuatu di sekitar kita baik berupa dunia biotik (bernyawa) maupun abiotik (tidak bernyawa). Ahli lingkungan membagi lingkungan hidup dalam tiga golongan,  yakni :
1.    Lingkungan fisik, yaitu segala sesuatu di sekitar kita yang berupa benda mati;
2.    Lingkungan biologis, yaitu segala sesuatu di sekitar kita yang tergolong organisme hidup;
3.    Lingkungan sosial, adalah manusia (masyarakat yang ada di sekitarnya).

Istilah “lingkungan” (bi’ah) mencakup keseluruhan kondisi dan hal-hal yang bisa berpengaruh terhadap perkembangan hidup organisme. Kesatuan dan saling ketergantungan semua yang hidup dalam sistem biologi dan hubungannya dengan lingkungan disebut ekosistem. Ketergantungan antara organisme hidup dengan sumber-sumber hidupnya, seperti air dan makanan, menentukan keberlangsungan keberadaannya. Oleh karena itu, lingkungan mencakup kesatuan yang saling terkait, baik lingkungan fisik berupa keadaan alam, seperti air, udara, tanah, gunung, hutan, laut dan sungai maupun organisme yang hidup di dalamnya, seperti hewan dan tumbuh-tumbuhan.

Definisi lingkungan sendiri adalah bagian dari ekosistem hidup yang mengalami evolusi, baik evolusi secara alamiah maupun evolusi secara kimiawi yang disebabkan oleh campur tangan makhluk hidup yang sedang bertumbuh kembang demi mempertahankan kelangsungan hidupnya di muka bumi. Dari definisi tersebut dapat kita pahami, betapa pentingnya lingkungan bagi manusia, yang merupakan satu-satunya makhluk hidup yang tercipta dengan dibekali akal untuk berfikir. Baik dan buruknya keberlangsungan sebuah kehidupan sepenuhnya bergantung pada manusia.

Jika kita mengkaji lebih dalam lagi maka akan kita temukan pula konsep menjaga lingkungan dalam islam yang termaktub dalam kitab qowa’id al-fiqh yaitu konsep maslahah. Secara umum pengertian maslahah adalah setiap perkara yang dibutuhkan oleh komunitas manusia untuk mensejahterakan kehidupan sesuai prinsip terbaik. Sedangkan mafsadah adalah setiap perkara yang dapat membahayakan atau mengancam keberlangsungan hidup manusia, baik secara individual maupun komunitas. Adapun maslahah secara garis besar mengacu kepada 5 prinsip:
1.    hifdzu ad-din (melindungi agama), seperti disyari’atkannya membunuh orang yang murtad;
2.    hifdzu al-nafsi (melindungi jiwa), seperti disyari’atkannya qishos (ekseskusi mati) bagi orang yang sengaja melakukan pembunuhan;
3.    hifdzu al-nasl (melindungi keturunan), seperti disyari’atkannya rajam bagi pelaku perzinaan;
4.    hifdzu al-aqli (melindungi akal), seperti disyari’atkannya hukuman cambuk bagi peminum khamr atau sejenisnya; dan hifdzu al-mal (melindungi harta), seperti disyari’atkannya hukuman potong tangan bagi pencuri;

Sebagian ulama’ menambahkan hifdzu al-‘irdh (melindungi kehormatan), seperti disyari’atkannya hukuman cambuk bagi pelaku qodzaf (penuduhan zina). Lantas jika menjaga lingkungan memiliki tujuan demi mempertahankan keberlangsungan hidup, bukankah itu tercakup dalam prinsip yang ke-2 yakni hifdzu an-nafs ? Dan diantara cara melestarikan lingkungan adalah senantiasa menjaga kebersihan.

Berbicara tentang konsep menjaga kebersihan, sebenarnya sudah ada dalam islam. Banyak hadits Nabi sallahu ‘alaihi wa sallam yang menjelaskan hal itu:
“Jagalah kebersihan, sesungguhnya islam adalah agama yang bersih”.  (H.R. Ibnu Hibban)
“Menjaga kebersihan merupakan (sikap) untuk (mencapai) iman”. (H.R. At-Thobaroni)          

Dalam kitab Ihya’ ‘ulum ad-din karya Imam Al-Ghozali juga disebutkan hadist terkait keutamaan menjaga kebersihan, yang artinya :
Rasulullah SAW bersabda : “Agama (islam) dibangun berdasarkan kebersihan”.

Dan masih banyak lagi hadits-hadits lain yang secara shorih menjelaskan betapa pentingnya hidup bersih.

Mari kita lihat saja dalam kitab-kitab fiqh, memotong kuku hukumnya adalah sunah, melumuri diri dengan perkara-perkara najis hukumnya haram, ber-istinja’ hukumnya wajib meskipun cukup menggunakan batu tetapi alangkah baiknya jika dilengkapi dengan air, bilamana ingin cukup dengan salah satunya maka air lebih utama dibandingkan menggunakan batu. Kiranya semua itu cukup untuk menununjukkan kepada kita semua, bagaimana islam secara tegas memperingatkan kepada kita akan pentingnya menjaga kebersihan.

Nah, kita sebagai santri yang lebih tahu syari’at seharusnya memperhatikan betul dan mempratikkan gaya hidup bersih. Dimulai dari diri kita sendiri dengan membuang sampah pada tempatnya dan rajin piket demi kebersihan lingkungan sekitar. Sayangnya, semua itu masih saja terasa sulit dan berat untuk kita lakukan, iya tak lain karena faktor rasa malas yang kita biarkan tumbuh di dalam benak diri kita. Padahal seringkali kita diingatkan bukan hanya berbentuk peringatan berupa perkataan, bahkan berupa tulisan yang ditempel hampir di setiap dinding-dinding komplek khususnya di pondok sekitar Sarang, yakni jargon yang berbunyi “HIDUP BERSIH ADALAH CERMIN KEPRIBADIAN SANTRI.” Oleh karena itu marilah kita sadari, bahwa rasa nyaman dalam menuntut ilmu adalah jika lingkungan sekitar kita bersih.

Jangan meninggalkan apapun kecuali jejak...
Jangan mengambil apapun kecuali foto...
Jangan membunuh apapun kecuali waktu...
(Pecinta Alam)

وَلا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلاحِها وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ  (الاعراف : 56)

Wallahu a’lam…
www.ayeey.com www.resepkuekeringku.com www.desainrumahnya.com www.yayasanbabysitterku.com www.luvne.com www.cicicookies.com www.tipscantiknya.com www.mbepp.com www.kumpulanrumusnya.com www.trikcantik.net

Monday, April 17, 2017

Etika Dunia Maya

Perisai Diri Dalam Pemanfaatan Teknologi Informasi

Kalian kenal dengan Internet kan?
Yap, betul.. ia merupakan salah satu tren gaya hidup yang sedang tumbuh pesat saat ini. Bagaikan sebuah ruangan, internet merupakan ruangan yang –hampir- tanpa batas. Pengguna yang sedang berselancar di ruangan tersebut hampir dipastikan bisa menemukan apa yang ia cari. Selain itu, internet juga berfungsi sebagai sarana (media) untuk berkomunikasi dengan orang lain. Hal inilah yang sekarang sedang di-gandrungi oleh sebagian besar masyarakat, khususnya anak muda – terkhusus lagi kaum hawa.
Yah begitulah,- remaja putri, curhat, dan media sosial - tiga elemen yang tak dapat terpisahkan. Rasa seperti pagi hari tanpa secangkir kopi, mustahil terpisahkan. Nah dari itu saya pengen menyampaikan pesan, khususnya untuk para perempuan berkaitan dengan pemanfaatan teknologi internet – media sosial semisal Facebook, Twitter, Instagram wa akhawatuha. Kenapa perempuan..? karena merekalah yang disebut-sebut oleh Rosululloh SAW sebagai fitnah yang paling berbahaya,
مَا تَرَكْتُ بَعْدِى فِى النَّاسِ فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ - مسلم
“Tidaklah aku tinggalkan setelahku fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada fitnah wanita”. HR Muslim.
Disebutkan dalam percakapan Robi’ah al-Adawiyyah dengan lelaki pelamarnya, bahwa dalam bertindak melakukan suatu hal perempuan menggunakan 99 bagian nafsu dan hanya 1 bagian akal sedangkan laki-laki menggunakan 1 nafsu dan 99 akal. Hal ini diperkuat dengan satu pernyataan Rosululloh SAW
مَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِينٍ أَذْهَبَ لِلُبِّ الرَّجُلِ الْحَازِمِ مِنْ إِحْدَاكُنَّ - البخاري
“Saya belum pernah mengerti orang-orang yang kurang akal dan agamanya yang lebih menghilangkan lubb (akal yang bersih dari hawa-nafsu dan emosi) daripada seorang dari kalian”. HR Bukhori.
Back to topik, seperti yang telah disampaikan - alasan utama masyarakat berinternet (media sosial) tentu untuk memperoleh informasi-informasi penting guna menambah ilmu dan wawasan. Jadi jika sampean - para perempuan - mengunggah video di Youtube, curhat sembari mewek-mewek.. nulis status ngomong ngalor ngidul nggak ada ujung, atau sekedar menggerakkan jari-jari tangan menghasilkan setatus yang Gak Jelas, ‘Geje’ orang menyebutnya begitu.. terus yang liat video atau yang baca status sampean dapat apanya? Faedah..? Gitu aja kok nangis.
Jadi bagi kalian para curhaters yang risih sebaiknya kalian mencontoh persahabatan simbiosis mutualisme antara burung jalak dan kerbau. Sampean harus mengerti bagaimana retaknya perasaan kawan sampean...
Asumsinya begini,
Jika seseorang sampai meluapkan curhatannya pada media sosial berarti tidak ada yang mengerti perasaannya di dunia nyata sehingga dia membutuhkan solusi pada jagat maya (padahal ada Sang Pencipta loh). Kalo sudah tahap seperti ini, jangan dibercandain. Lebih baik kita kasih solusi dengan personal message. Atau jika tak mengerti masalahnya lebih baik diam. Kalo dalam bahasa Jawanya itu “if you don’t know anything, better don’t say anything”. Rosululloh SAW dalam satu pesannya menyampaikan,
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ – البخاري ومسلم
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berbicara yang baik atau jika tidak maka lebih baik diam.” HR Bukhori & Muslim
Nah bagi para curhaters, sebaiknya apa yang sampean tumpahkan di timeline medsos sampean lebih baik difilter terlebih dahulu. Gunakan akal sehat..!!! Jangan pikir dua atau tiga kali, tapi pikir sepuluh kali terlebih dahulu apakah status yang sampean tulis membawa ‘ruh’ kebaikan atau justru sebaliknya, menyebarkan petaka bagi sesama. Apakah dengan menulis permasalahan hidup di medsos semua akan teratasi? Dan apakah pantas hal-hal yang bersifat privasi kalian tampilkan pada Instagram Stories atau sejenisnya?. Ingatlah sindiran Al quran atas orang-orang yang tidak menggunakan akalnya,
...... أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ – الأعراف : 179
- Orang-orang yang tidak memanfaatkan akalnya levelnya akan menurun bahkan sampai pada level binatang -. dan mereka itulah orang-orang yang lalai.”
Untuk itu, sebagai insan yang diberi ‘pengetahuan’ – alhamdulillah - berikut akan saya sampaikan beberapa etika yang selayaknya kita indahkan guna membekali diri dalam menyalurkan hobi wira-wiri di dunia maya yang tak pasti (terlebih sosial media). Jangan dibilang ini sekedar menggurui, karena ini merupakan bentuk pelaksanaan tanggung jawab untuk saling berwasiat dalam kebaikan, ketakwaan dan menahan diri (bersabar) dari godaan nafsu yang tidak terpuji,
... وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ  - العصر : 3
“... dan saling berwasiat dalam kebenaran dan kesabaran.” (Al-‘Ashr: 3)
Monggo disimak baik-baik, kemudian dilaksanakan, syukur-syukur dibagikan kepada yang lainnya sebagai bentuk kepedulian kita pada sesama;
1.  Tahu Waktu
وَالْعَصْرِ - إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ - العصر : 1-2
“Demi masa Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian.” (Al-'Ashr: 1-2).
Salah satu dampak nyata dari terlalu asyik berselancar di dunia maya adalah waktu kita terbuang sia-sia. Semakin kecanduan seseorang terhadap internet, maka semakin besar potensi hilangnya waktu produktif orang tersebut.
Yang lebih fatal jika kita sampai melupakan tugas pokok kita sebagai umat manusia - beribadah kepada Allah SWT. Jangan sampai malam hari yang seharusnya digunakan untuk bermunajat kepada Allah, ber-qiyamul lail, malah dibuang percuma tergantikan oleh berselancar tanpa batas. Sayangnya, saat ini keutamaan-keutamaan dan janji-janji akan banyaknya pahala yang bisa didapatkan dengan qiyamul lail seakan kalah dengan kenikmatan duniawi yang memanjakan mata yang ditawarkan oleh internet. Hal ini diperparah oleh ulah operator penyedia jasa internet yang memberikan berbagai paket murah bagi siapa saja yang mau begadang sambil berinternet.
Seyogyanya kita harus tahu waktu. Gunakan internet ketika dibutuhkan, untuk mencari tambahan referensi misalnya, dengan menggunakan waktu-waktu luang di luar waktu untuk tugas utama. Misalnya bagi seorang pelajar, berinternet jangan sampai dilakukan ketika jam sekolah, atau ketika waktu belajar di rumah. Jangan sampai setiap waktu kita berhubungan dengan internet.
2.  Silaturrahim Harus Nyata, Bukan Hanya Maya
Salah satu bagian yang sedang booming dari teknologi informasi yang berupa internet adalah sosial medianya. Disebut demikian karena situs-situs yang termasuk dalam kategori ini menyediakan berbagai fasilitas bagi penggunanya untuk saling berkomunikasi dengan pengguna yang lain. Melalui situs-situs seperti Facebook, Twitter, dan saudara-saudaranya, kita bisa saling mengenal dan berbagi apa yang kita alami dengan pengguna yang lain. Mungkin awalnya tidak ada masalah dengan situs-situs tersebut. Namun tanpa disadari, kegemaran kita mengakses situs-situs tersebut lambat laun turut membawa kita terlena dengan kehidupan sosial yang maya tersebut. Secara perlahan kita mulai melupakan kehidupan kita di dunia nyata. Bahkan sampai ada anekdot bahwa kabar kematian 'teman' di seberang lautan lebih cepat diketahui dari pada kabar kematian tetangga.
Oleh karena itu, seyogyanya berinternet kita hentikan sejenak ketika berkumpul bersama orang-orang terdekat kita maupun dengan masyarakat lainnya. Letakkan dulu gadget ketika kita sedang berdiskusi misalnya, atau ketika sedang berinteraksi secara nyata, terlebih ketika sedang berkumpul bersama keluarga. Harus kita ingat, orang yang mau berkumpul bersama di hadapan kitalah yang harus kita utamakan, bukan orang yang selalu me-like­ status di Facebook dan sejenisnya, apalagi kita belum pernah sama sekali bertemu dan bertatap muka secara langsung dengannya. Dan juga harus diingat, jangan sampai keasyikan berinternet membuat kita melupakan keadaan di sekitar, terutama keadaan keluarga dan tetangga dekat kita.
3.  Internet harus bermoral
Selain tergusurnya interaksi nyata kita, derasnya arus internet dengan sosial media-nya juga berdampak terhadap aspek moral dan norma umat. Dengan kemudahan mengakses berbagai informasi tanpa batas, seorang pengguna internet akan dengan mudah mengakses apa yang ia inginkan. Tanpa adanya kontrol yang ketat, layaknya seseorang yang bermimpi, apa yang ia impikan bisa dinikmati dalam dunia maya, tanpa perlu takut diketahui orang lain. Hal inilah yang paling ditakuti oleh banyak kalangan dari pengaruh internet.
Harus kita sadari, bahwa meskipun hanya ‘maya’, tapi apa yang kita lakukan di internet juga tercatat sebagai amal perbuatan kita. Dengan satu klik, ratusan konten terlarang yang kita akses juga tercatat dengan rapi dalam buku catatan amal kita.
وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ – الحشر : 18
“Dan hendaklah seseorang berfikir, berangan-angan apa yang disiapkannya untuk hari esok (akhirat), dan takutlah kalian pada Allah. Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (Al-Hashr: 18)
Sudah seharusnya kita mengontrol diri dalam penggunaan internet, dengan mengedepankan aspek moral dan norma agama. Atau mungkin jika kita tidak bisa menahan nafsu sendiri, kita bisa menginstal aplikasi-aplikasi filter internet, sebagai bentuk pertahanan diri dari serangan nafsu yang negatif.
إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ - يوسف : 53
“Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan.” (QS : Yusuf : 53)

4.  Internet Bukan Referensi Utama, Hanya Pembanding Saja
Internet sebagai sebuah sarana juga memberikan berbagai kemudahan bagi kita. Seperti yang telah disebutkan, dengan hanya menekan satu tombol saja, kita bisa menemukan apa yang kita cari. Ketergantungan yang berlebih terhadap internet membuat kita semakin malas berfikir untuk menyelesaikan masalah yang kita hadapi. Bagaimana tidak, seperti yang dikatakan banyak orang saat ini, “Tinggal tanya sama mbah Google!” semua yang kita cari sudah ada. Kodrat manusia yang merupakan “entitas yang memiliki kemampuan berfikir” menjadi semakin tergerus. Pada akhirnya, sifat hidup manusia juga akan semakin menurun. Padahal berfikir merupakan salah satu tanda kehidupan pada diri manusia, seperti dikatakan, “Aku berfikir, maka aku hidup”. Selayaknya kita jadikan internet hanya sebagai media perbandingan saja. Kalau kita butuh referensi untuk suatu hukum, seyogyanya kita merujuk pada kitab-kitab salaf, atau bisa langsung bertanya kepada para ulama' yang sudah tentu terbukti kompetensi keilmuannya, bukan kepada mbah Google !
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ - النحل : 43
“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui”. (An-Nahl : 43)
5.  Internet Untuk Kebaikan
Layaknya sebuah alat, kita harus memanfaatkan internet untuk tujuan yang sebaik mungkin. Salah satu contohnya adalah berdakwah. Tak bisa dipungkiri, bahwa pada era modern ini gerak dakwah dan jihad Islam mulai bergeser, dari yang asalnya menggunakan senjata, berhadap-hadapan secara langsung, kini mengarah ke ranah pemikiran. Dan seiring berkembangnya teknologi informasi, pergelutan pemikiran yang dikenal dengan istilah ghozwul fikri ini semakin ramai terjadi di dunia maya. Di sinilah seharusnya kita gunakan kesempatan sebaik mungkin. Jika kita melihat ada musuh-musuh Islam menyerang melalui sebuah situs, status facebook, fanpage, atau hashtag yang memojokkan Islam, kita bisa menyerang balik juga melalui media-media tersebut. Kita juga bisa berdakwah dengan membuat blog misalnya, yang berisi khazanah-khazanah ke-Islam-an, untuk berbagi pengetahuan Islam kita dengan berbagai netizen di penjuru dunia.
Terakhir, semua ini kembali kepada diri kita masing-masing. Sebagai alat, internet bisa baik jika kita gunakan dengan baik, begitu juga sebaliknya. Dan yang terpenting – kaitannya dengan para remaja yang sedang galau -atau apalah istilahnya- media sosialmu bukanlah buku diary-mu. So.. jangan sembarang curhat yang aneh-aneh atau live report absurd di Instagram Live, karena bisa berbahaya akibatnya – bukan sekedar bagi kita, bahkan bagi mereka yang melihatnya.

Saran dari saya, sebaiknya semua problem hidup kita ceritakan dalam sujud panjang kita pada Sang Maha Pencipta, Allah SWT. Karena Allah adalah tempat paling aman untuk kita berkeluh kesah, dan yang jelas – insyaAllah - ‘dapat pahala’. Wallahu A’lam Bisshowab.
www.ayeey.com www.resepkuekeringku.com www.desainrumahnya.com www.yayasanbabysitterku.com www.luvne.com www.cicicookies.com www.tipscantiknya.com www.mbepp.com www.kumpulanrumusnya.com www.trikcantik.net

Sunday, February 5, 2017

Damai Bersama Islam

1438 tahun lamanya kedamaian telah diuji kualitasnya oleh zaman dan gejolak pemikiran penghuninya, baik di dalam memaknai arti sebuah kedamaian itu sendiri secara utuh atau dalam pengaplikasiannya, tujuan hidup, background politik atau sebuah anggapan keniscayaan belaka.

Dalam kamus besar bahasa Indonesia para penggagas retorika bahasa (ahli bahasa) menyatakan arti damai sebagai bentuk tidak adanya perang (aman), rukun, damai, santun yang mana semuanya bermuara untuk menghasilkan sikap saling menghargai antara satu dan yang lainnya, baik dalam sisi corak pemikiran, adat kebiasaan, keyakinan dan tujuan hidup sebenarnya.
Pengertian damai dalam penggunaan kalam arab secara bahasa disebut dengan kata al-shulhu (الصلح) yang berarti قطع المنازعة  yakni memutus pertengkaran / perselisihan.

Secara istilah (Syara’) ulama mendefinisikan al-shulhu sebagai berikut:
~ Menurut Taqiy al- Din Abu Bakar Ibnu Muhammad al-Husaini:
العَقْدُ الَّذِىْ يَنْقَطِعُ بِهِ خُصُوْمَةُ المُتَخَاصِمَيْنِ
“Akad yang memutuskan perselisihan dua pihak yang bertengkar (berselisih)”.

~ Hasby Ash-Siddiqie dalam bukunya Pengantar Fiqih Muamalah berpendapat bahwa yang dimaksud al-shulhu adalah:
عَقْدٌ يَتَّفِقُ فِيْهِ المُتَنَازِعَانِ فِي حَقٍّ عَلَى مَا يَرْتَفِعُ بِهِ النِّزَاعُ

“Akad yang disepakati  oleh dua orang yang bertengkar dalam hak untuk melaksanakan sesuatu, dengan akad itu dapat hilang perselisihan”.

~ Sayyid Sabiq berpendapat bahwa yang dimaksud dengan al–shulhu adalah suatu jenis akad untuk mengakhiri perlawanan antara dua orang yang berlawanan.

Dari beberapa definisi di atas maka dapat disimpulkan bahwa “al-shulhu adalah suatu usaha untuk mendamaikan dua pihak yang berselisih, bertengkar, saling dendam, dan bermusuhan dalam mempertahankan hak, dengan usaha tersebut dapat diharapkan akan berakhir perselisihannya”. Dengan kata lain, sebagai mana yang diungkapkan oleh Dr. Wahbah Zulhaily al-shulhu adalah akad untuk mengakhiri semua bentuk pertengkaran atau perselisihan.

Dasar Hukum al- Shulh ;
Perdamaian (al-shulhu) disyari’atkan oleh Allah SWT. Sebagaimana yang tertuang dalam Al-Qur’an:

إِنَّمَاالْمُؤْمِنُوْنَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوْا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوْا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ .

“Sesungguhnya orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat” (Qs. Al-Hujurat : 10).

وَالصُّلْحُ خَيْرٌ .

“Perdamaian itu lebih baik” (Al-Nisa:128)

Disamping firman-firman Allah SWT, Rasulullah SAW juga menganjurkan untuk melaksanakan perdamaian dalam salah satu hadis yang di riwayatkan oleh Ibnu Hibban dan Tirmizi dari Umar Bin Auf Al- Muzanni Rasulullah SAW bersabda:

الصُّلْحُ جَائِزٌ بَيْنَ المُسْلِمَيْنِ إلآ صُلْحًا أَحَلَّ حَرَامًا وَ حَرَّمَ حَلالاً  (رواه ابن حبان)

“Mendamaikan dua muslim (yang berselisih) itu hukumnya boleh kecuali perdamaina yang mengarah kepada upaya mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram”. (HR. Ibnu Hibban dan Turmudzi)

Contoh menghalalkan yang haram seperti berdamai untuk menghalalkan riba. Contoh mengharamkan yang halal seperti berdamai untuk mengharamkan jual beli yang sah.

Agama adalah tolok ukur atau dasar pondasi terciptanya sebuah kedamaian, kenapa ?

Karena agama adalah sebuah alat, petunjuk bagi jiwa untuk memahami arti adanya mereka (untuk apa mereka diciptakan) seperti halnya para utusan yang membawa risalah dari robb semesta alam dengan membawa misi perbaikan moral sebagai estetika hidup, baik secara individual maupun sosial (berkelompok) yang lebih mengarah pada penataan rasional dan spiritual manusia sebagai seorang khalifah maupun seorang hamba. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan budipekerti (akhlaq) yang mulia”. (HR. Abu Huroiroh).

Kedamaian mulai terusik setelah nampak perselisiha antara Adam dan Abu al-Jan atau Azazil (Syaitan), ketika nampaknya pembangkangan dari Qabil untuk tidak menikahi saudari kandungnya (Iqlimah),  ketika keinginan dan sifat rakus terhadap sesuatu sudah mengalahkan nurani dan akal sehat pemiliknya, ketika kebahagiaan harus dicapai dengan segala cara, ketika rasa peduli dan saling menghormati telah kering oleh penyakit jiwa.

Dan tidak akan ada istilah kedamaian tanpa adanya perselisihan karana keduanya memang diciptakan untuk saling mengenal satu sama lainnya, seperti halnya hidup dan mati, tua dan muda, siang dan malam, baik dan buruk, sebagai lukisan kehidup dunia yang berjalan mengiringi setiap peristiwa dan pelakunya juga senantiasa mengalir bersama putaran waktu dari masa-kemasa dalam bentuk corak panorama kehidup yang berwujud ibroh (pelajaran) bagi setiap mahluk yang mau berfikir untuk merenungi atas apa yang telah ia perbuat.

Kedamaiaan layaknya simfoni nyayian alam yang mengalir seperti air kemuaranya, seperti hembusan angin yang menyejukkan, seperti jajaran bintang yang berrotasi pada porosnya, seperti ombak yang berbaris mencapai pesisir, seperti jutaan urat nadi yang tersusun dalam tubuh untuk mengalirkan darah, sari makanan, informasi atas apa yang ia lihat, dengar dan rasakan. artinya semuanya harus menempati pada tatanan aturannya masing-masing sehingga tercipta keserasian dan keseimbangan.

Manifestasi makna damai, seimbang atau tentram memiliki berbagai arti dan tempat, seperti berdamai pada diri sendiri yaitu dengan memberikan hak-hak tiap-tiap anggota Pada diri kita sesuai dengan fungsi kodratya yang telah digariskan oleh syara’. semisal tangan untuk membantu suatu pekerjaan atau orang yang membutuhkan bantuan, kaki untuk berjalan menuju sesuatu yang diperintah oleh agama dan berlari (menjaga, menahan diri) dari larangannya, lisan berkata dengan jujur, baik dan sopan, mata untuk melihat sesuatu yang dibolehkan, telinga untuk mendengar sebuah nasihat atau petuah dan akal mempunyai hak untuk berfikir, belajar tentang suatu yang bersifat pengetahuan guna membatasi hawanafsu dalam bertindak diluar batas ambang kemanusiaan.

Seperti halnya berdamai dengan diri sendiri, kitapun dituntut untuk berdamai dengan orang lain dengan memberikan hak-hak mereka sebagai mahluk social, baik sebagai saudara, orang tua atau tetangga. yaitu dengan tidak mendholimi mereka, melukai perasaannya, mengambil hak-haknya diatas kepentingan kita, dan dengan sikap rendah hati, penyabar serta berempati terhadap nasip dan masa depan bersama tanpa membeda-bedakan golongan, suku, ras ataupun agama. maka secerca suasana damai, tentram akan terwujud untuk kesekian kalinya guna mendampingi perjalanan kita sebagai mahluk hidup yang bersifat sosial (saling membutuhkan).

Sekarang di manakah letak kedamaian tersebut ?

Kedamaian terletak pada akal dan jiwa pemiliknya yang tidak keluar atau melenceng dari kodrat agama, adat dan nuraninya. Karna sejatinya agama adalah petunjuk yang bagus, adat adalah kebiasaan yang baik sebagai ciri dari suatu kelompok atau golongan dan nurani adalah fitrah yang suci tidak ternoda. Ketika akal dan jiwa sudah keluar dari kodratnya ia diciptakan maka akan timbulah apa yang dinamakan perselisihan dan permusuhan. 

Jadi kemanakah kita harus mengarahkan akal dan jiwa supaya dapat berjalan seirama sesuai dengan asal keberadaanya, untuk membaca, melihat dan merenungi ayat-ayat tuhanmu yang telah diajarkan kepadamu dan telah disampaikan oleh nabimu sebagai jembatan untuk mendapatkan kedamaian yang abadi di sana.
www.ayeey.com www.resepkuekeringku.com www.desainrumahnya.com www.yayasanbabysitterku.com www.luvne.com www.cicicookies.com www.tipscantiknya.com www.mbepp.com www.kumpulanrumusnya.com www.trikcantik.net